Training Days
Due to office assingment, I will not be able to post for about 10 days, since September 5th to September 15th 2004.
The Training titel were Indepth Investigation Techniques Training
so, see you in ten days.
Sunday, September 05, 2004
Friday, August 27, 2004
Overworked and under.......(Nikmat mana lagi yang kan Kudustakan?)
Sepertinya segala sesuatu mempunyai batas ya.... begitu juga dengan tubuh kita. Hari senin tanggal 23 Agustus 2004 sebenarnya udah kerasa agak gak enak badan (my body is not delicious) tapi tetap mencoba masuk kantor karena ada kerjaan yang harus kejar tayang. Esok harinya, hari selasa, begitu pulang ke rumah langsung badan rasanya menggigil, demam, dan panas sekitar 38,5 derajat celcius. Malam harinya tidur juga gak nyenyak banget, tapi berkat sang Istri yang setia menemani, katanya sampe baru tidur jam 3 pagi karena sibuk mengompres (mudah-mudahan ejaannya betul) diriku yang tidurnya juga sambil meracau (mengingau).
Esok paginya, hari Rabu, Istri bercerita bahwa, tadi malam saya meracau seperti anak kecil yang sedang menangis dan memanggil: 'Mamaaa...Mamaaa....'
Langsung aja Istri bilang:
'Idih....Aa (panggilan Istri ke saya).... masak tadi malam ngigau sambil manggil-manggil mama....'
Oopss...dengan wajah sedikit malu, dan sambil mencoba mencari jawab ngeles yang tepat akhirnya saya jawab:
'Ah.... masak sih' masih mencoba untuk memastikan mungkin Istri hanya guyon.
'Maksud Aa sih.... Mama di situ ya Kamu, Sayang. Kamu kan calon Mama...' (instead of saying Mama, is my own Mother) :)
Ha..ha... jawaban yang spontan dan cukup diplomatis, buktinya Dia langsung mesem-mesem mendengar jawaban saya.
Hari Rabu, siang akhirnya kami (Saya dan Istri) berobat ke Dokter dan hasilnya: saya harus beristirahat selama 2 (dua) hari, maunya sih 3 (tiga) hari biar jum'at gak masuk sekalian :) karena terkena radang Tenggorokan, serta batuk dan pilek. Dan harus meminum 5 (lima) macam obat:
Amoxsan (yang kemudian diganti Erytrhomicyn, karena membuat saya alergi)
Erytrhomicyn
Tuzalos
Cortidex
Becom C
Ah...nampaknya memang nikmat sehat itu baru terasa ketika sakit. Alhamdulillah, Allah mengkaruniakan kepada saya seorang istri yang baik, setia dan taat.
Masya Allah... nikmat mana lagi yang akan kudustakan, hari ini?
Picture taken from here
Wednesday, August 18, 2004
Quo Vadis Masa Depan Bangsa?
Judul di atas diambil dari bahasa latin, yang artinya "mau kemana" biasanya kalimat tersebut diungkapkan atas sebuah pertanyaan atau sesuatu hal yang tidak kita ketahui. Pertanyaan ini layak kembali kita kemukakan disaat kita memperingati Hari Kemerdekaan, walaupun bagi sebagian orang masih mempertanyakan apa makna dan hakekat dari kemerdekaan itu sendiri. Ibarat manusia usia 59 adalah menjelang senja, tapi bagi sebuah bangsa usia seperti itu adalah masih terbilang belia. Karena bagaimanapun para pendiri bangsa kita tentu tidak pernah membatasi sampai berapa ratus tahun bahkan abad usia bangsa Indonesia.
Apa sebenarnya yang bisa kita banggakan kepada sesama bangsa lain di dunia ini, atau apa yang nanti akan kita wariskan untuk anak-cucu kita kelak. Setumpuk utang luar negeri kah yang hanya dinikmati oleh segelintir orang yang menamakan dirinya konglomerasi? Segudang persoalan konflik lokal kah yang seringkali merenggut ratusan bahkan ribuan nyawa anak-anak sesama negeri? Selusin persoalan pendidikan yang tiba-tiba menjadi barang mahal di negeri ini kah?
Dalam perjalanan kita sejak 'merdeka' hingga kini, telah banyak kepentingan rakyat yang diabaikan. Alih-alih menjadi pelayan rakyat, pemerintah justru semakin menunjukkan dirinya sebagai pelayan pemilik modal dan pihak asing. Demi memenuhi ‘perintah’ IMF, misalnya, berbagai kemaslahatan rakyat, listrik, telekomunikasi, air, subsidi pertanian, pendidikan, kesehatan dan obat-obatan, dan sebagainya, dirampas dari rakyat; bahkan rakyat kemudian harus membeli semua itu, yang notabene adalah hak mereka, dengan harga yang amat mahal. Walhasil, rakyat justru kemudian dipaksa untuk memenuhi kepentingan pejabat, pemilik modal, dan pihak asing.
Dimana sebenarnya tanggung jawab para penyelenggara negara ini?
Ah.. saya tidak tahu lagi bagaimana nanti saya harus menjawab pertanyaan anak-anak saya kelak, jika suatu saat mereka menagih apa yang seharusnya mereka dapatkan sebagai bekal untuk meneruskan laju perjalanan bangsa ini.
Judul di atas diambil dari bahasa latin, yang artinya "mau kemana" biasanya kalimat tersebut diungkapkan atas sebuah pertanyaan atau sesuatu hal yang tidak kita ketahui. Pertanyaan ini layak kembali kita kemukakan disaat kita memperingati Hari Kemerdekaan, walaupun bagi sebagian orang masih mempertanyakan apa makna dan hakekat dari kemerdekaan itu sendiri. Ibarat manusia usia 59 adalah menjelang senja, tapi bagi sebuah bangsa usia seperti itu adalah masih terbilang belia. Karena bagaimanapun para pendiri bangsa kita tentu tidak pernah membatasi sampai berapa ratus tahun bahkan abad usia bangsa Indonesia.
Apa sebenarnya yang bisa kita banggakan kepada sesama bangsa lain di dunia ini, atau apa yang nanti akan kita wariskan untuk anak-cucu kita kelak. Setumpuk utang luar negeri kah yang hanya dinikmati oleh segelintir orang yang menamakan dirinya konglomerasi? Segudang persoalan konflik lokal kah yang seringkali merenggut ratusan bahkan ribuan nyawa anak-anak sesama negeri? Selusin persoalan pendidikan yang tiba-tiba menjadi barang mahal di negeri ini kah?
Dalam perjalanan kita sejak 'merdeka' hingga kini, telah banyak kepentingan rakyat yang diabaikan. Alih-alih menjadi pelayan rakyat, pemerintah justru semakin menunjukkan dirinya sebagai pelayan pemilik modal dan pihak asing. Demi memenuhi ‘perintah’ IMF, misalnya, berbagai kemaslahatan rakyat, listrik, telekomunikasi, air, subsidi pertanian, pendidikan, kesehatan dan obat-obatan, dan sebagainya, dirampas dari rakyat; bahkan rakyat kemudian harus membeli semua itu, yang notabene adalah hak mereka, dengan harga yang amat mahal. Walhasil, rakyat justru kemudian dipaksa untuk memenuhi kepentingan pejabat, pemilik modal, dan pihak asing.
Dimana sebenarnya tanggung jawab para penyelenggara negara ini?
Ah.. saya tidak tahu lagi bagaimana nanti saya harus menjawab pertanyaan anak-anak saya kelak, jika suatu saat mereka menagih apa yang seharusnya mereka dapatkan sebagai bekal untuk meneruskan laju perjalanan bangsa ini.
Friday, July 23, 2004
Kebingungan dan Kebahagian
Sudah sekitar lima bulanan ini, hati senantiasa diliputi sebuah rasa yang membingungkan sekaligus membahagiakan. Rasa ingin selalu bertemu, ingin bersama, bermanja, menatap, menyentuh, dan melindungi sebuah nama yang kemudian berubah menjadi panggilan kasih sayang dan rindu. Mungkinkah ini yang namanya RASA CINTA BERBUAH RASA RINDU, MEMBAHAGIAKAN DAN MEMBINGUNGKAN?
Bagaimana tidak membingungkan, saya merasa sebagai seorang yang cukup rasional, terlebih dalam hal masalah uang. He..he... Semua pengeluaran saya usahakan diperhitungkan sebelumnya, sehingga oleh sebagian orang saya dianggap pelit. Tetapi, demi rasa itu, uang berubah wujud menjadi pulsa-pulsa telepon dalam hitungan menit. HANYA KARENA INGIN MENDENGAR SEBUAH SUARA, UNTUK MEMASTIKAN SEBUAH SUARA, UNTUK MEMASTIKAN SEBUAH KEADAAN, DEMI MEMUASKAN SEBUAH RASA: RINDU!!
Bagaimana tidak membingungkan, saya sudah cukup rasional dalam hal menggunakan waktu. Sebagian orang menganggap saya sulit dilacak keberadaannya *padahal ada di kantor terus* Tetapi semua itu berubah begitu saja ketika saya harus menghabiskan waktu dua jam perjalanan pergi dan dua jam perjalanan pulang, HANYA UNTUK MELIHAT SERAUT WAJAH, MENYENTUH JEMARI, DAN MENCIUM AROMA KHAS TUBUH SEORANG MANUSIA.
Saya merasa cukup logis untuk menentukan apa dan siapa yang layak saya cintai, sehingga sebagian orang menyatakan saya tidak punya perasaan. Tetapi semua itu berubah, KETIKA SAYA MENGINGATNYA, BERDEKATAN DENGANNYA. LOGIKA TERNYATA TAK BERFUNGSI DI SINI. Logikaku mati!! Namun, seperti sudah saya katakan bahwa semua bentuk kehilangan logika itu berbuah hal yang tak bisa dilogikakan sama sekali: BAHAGIA!!
Ada apa?!
Ya... alhamdulillah sekitar 5 bulanan ini, ada seorang wanita yang bersedia memberikan cintanya padaku. Sebuah karunia yang harus aku syukuri. Ia memberikan Cinta itu setelah melalui prosesi DILAMAR dan setalah mengikrarkan sebuah janji MISTAQON GHALIZA DI HADAPAN PENGHULU. Ya...WANITA INILAH ISTRIKU, YANG BERUBAH NAMANYA DARI SEKEDAR SEBUAH NAMA MENJADI PANGGILAN KASIH DAN SAYANG.
SEMOGA ALLAH MENGEKALKAN KITA. AMIEN.
Inspired by article: Kekasihku Pacarku (Muhammad Aga S)
Sudah sekitar lima bulanan ini, hati senantiasa diliputi sebuah rasa yang membingungkan sekaligus membahagiakan. Rasa ingin selalu bertemu, ingin bersama, bermanja, menatap, menyentuh, dan melindungi sebuah nama yang kemudian berubah menjadi panggilan kasih sayang dan rindu. Mungkinkah ini yang namanya RASA CINTA BERBUAH RASA RINDU, MEMBAHAGIAKAN DAN MEMBINGUNGKAN?
Bagaimana tidak membingungkan, saya merasa sebagai seorang yang cukup rasional, terlebih dalam hal masalah uang. He..he... Semua pengeluaran saya usahakan diperhitungkan sebelumnya, sehingga oleh sebagian orang saya dianggap pelit. Tetapi, demi rasa itu, uang berubah wujud menjadi pulsa-pulsa telepon dalam hitungan menit. HANYA KARENA INGIN MENDENGAR SEBUAH SUARA, UNTUK MEMASTIKAN SEBUAH SUARA, UNTUK MEMASTIKAN SEBUAH KEADAAN, DEMI MEMUASKAN SEBUAH RASA: RINDU!!
Bagaimana tidak membingungkan, saya sudah cukup rasional dalam hal menggunakan waktu. Sebagian orang menganggap saya sulit dilacak keberadaannya *padahal ada di kantor terus* Tetapi semua itu berubah begitu saja ketika saya harus menghabiskan waktu dua jam perjalanan pergi dan dua jam perjalanan pulang, HANYA UNTUK MELIHAT SERAUT WAJAH, MENYENTUH JEMARI, DAN MENCIUM AROMA KHAS TUBUH SEORANG MANUSIA.
Saya merasa cukup logis untuk menentukan apa dan siapa yang layak saya cintai, sehingga sebagian orang menyatakan saya tidak punya perasaan. Tetapi semua itu berubah, KETIKA SAYA MENGINGATNYA, BERDEKATAN DENGANNYA. LOGIKA TERNYATA TAK BERFUNGSI DI SINI. Logikaku mati!! Namun, seperti sudah saya katakan bahwa semua bentuk kehilangan logika itu berbuah hal yang tak bisa dilogikakan sama sekali: BAHAGIA!!
Ada apa?!
Ya... alhamdulillah sekitar 5 bulanan ini, ada seorang wanita yang bersedia memberikan cintanya padaku. Sebuah karunia yang harus aku syukuri. Ia memberikan Cinta itu setelah melalui prosesi DILAMAR dan setalah mengikrarkan sebuah janji MISTAQON GHALIZA DI HADAPAN PENGHULU. Ya...WANITA INILAH ISTRIKU, YANG BERUBAH NAMANYA DARI SEKEDAR SEBUAH NAMA MENJADI PANGGILAN KASIH DAN SAYANG.
SEMOGA ALLAH MENGEKALKAN KITA. AMIEN.
Inspired by article: Kekasihku Pacarku (Muhammad Aga S)
Wednesday, July 21, 2004
Bataviawood
Dari pada pusing mikirin politik yang penuh intrik, rekayasa dan rekausaha, mending posting yang ringan-ringan aja kali ya....
Berikut ini daftar film-film unggulan Hollywood versi Batavia. Hanya ada di Condet Cineplex-Eplex 21, kalo masih kurang tambah sendiri aje yee....
1. Musuh di pager-pager (Enemy at the Gates)
2. Orang Kalong selamanya (Batman Forever)
3. Inget si Titan (Remember the Titans)
4. Kerjaan Orang Italia (The Italian Job)
5. Kagak Ada Matinye (Die Hard 1, 2, 3)
6. Bocah Bengal (Bad Boys 1, 2)
7. Gak Bisa Tidur di Seattle (Sleepless in Seattle)
8. Nyasar di Ruang Angkasa (Lost in Space)
9. Mantan Pria (X-Men)
10. Lebih Murah Beli Selusin (Cheaper by Dozen)
11. Kulkas (The Cooler)
12. Asyik Gajiaaan (Paycheck)
13. Tujuh Belasan (Independence Day)
14. Besok Lusa (The Day After Tomorrow)
15. Mati Entar Aje (Die Another Day)
16. Ada Ape ame Si Marry (There is Something About Marry)
17. Kambing aje Diem (Silence of the Lamb)
18. Semua Kuda Kece (All The Pretty Horses)
19. Planetnya Monyet-monyet Pade (Planet of the Apes)
20. Minggat Semenit (Gone in Sixty Second)
21. Dosa Asli (Original Sin)
22. Mama Kembalilah, Kembalilah (Mummy Returns)
23. Sum Takut ama Semua (The Sum All Fears) *Jangan takut dong mbak sum*
24. Tangisan Sun (Tears of The Sun) *Tabah ya mbak Sun...*
25. Laris Manis (The Abyss)
26. Kucing Ngopi (Copycat)
27. Roti Nyemplung di Laut (Seabiscuit)
28. Musuhan (Freddy vs Jason)
29. Calo Terminal (Terminator)
30. Awas Banjir (Air Bud)
31. Laporan bikin Repot (Minority Reports)
32. Vanilla Rasanya seLangit (Vanilla Sky)
33. Kiamat Udeh Deket (Armageddon)
Dari pada pusing mikirin politik yang penuh intrik, rekayasa dan rekausaha, mending posting yang ringan-ringan aja kali ya....
Berikut ini daftar film-film unggulan Hollywood versi Batavia. Hanya ada di Condet Cineplex-Eplex 21, kalo masih kurang tambah sendiri aje yee....
1. Musuh di pager-pager (Enemy at the Gates)
2. Orang Kalong selamanya (Batman Forever)
3. Inget si Titan (Remember the Titans)
4. Kerjaan Orang Italia (The Italian Job)
5. Kagak Ada Matinye (Die Hard 1, 2, 3)
6. Bocah Bengal (Bad Boys 1, 2)
7. Gak Bisa Tidur di Seattle (Sleepless in Seattle)
8. Nyasar di Ruang Angkasa (Lost in Space)
9. Mantan Pria (X-Men)
10. Lebih Murah Beli Selusin (Cheaper by Dozen)
11. Kulkas (The Cooler)
12. Asyik Gajiaaan (Paycheck)
13. Tujuh Belasan (Independence Day)
14. Besok Lusa (The Day After Tomorrow)
15. Mati Entar Aje (Die Another Day)
16. Ada Ape ame Si Marry (There is Something About Marry)
17. Kambing aje Diem (Silence of the Lamb)
18. Semua Kuda Kece (All The Pretty Horses)
19. Planetnya Monyet-monyet Pade (Planet of the Apes)
20. Minggat Semenit (Gone in Sixty Second)
21. Dosa Asli (Original Sin)
22. Mama Kembalilah, Kembalilah (Mummy Returns)
23. Sum Takut ama Semua (The Sum All Fears) *Jangan takut dong mbak sum*
24. Tangisan Sun (Tears of The Sun) *Tabah ya mbak Sun...*
25. Laris Manis (The Abyss)
26. Kucing Ngopi (Copycat)
27. Roti Nyemplung di Laut (Seabiscuit)
28. Musuhan (Freddy vs Jason)
29. Calo Terminal (Terminator)
30. Awas Banjir (Air Bud)
31. Laporan bikin Repot (Minority Reports)
32. Vanilla Rasanya seLangit (Vanilla Sky)
33. Kiamat Udeh Deket (Armageddon)
Tuesday, July 20, 2004
Bongkar Pasang ShoutBox dan Commenting System
Sepertinya sudah hampir 3 mingguan sejak Doneeh ngadat terus, saya mencoba mengunjungi rumahnya, eh malah ada keterangan Underconstruction, Ada apa dengan Doneeh (AADD) ya? *maksa banget* tapi sekarang sih sudah lumayan bisa login, walaupun ga bisa balas aau update shoutbox.
Aduuhh Doneeh kenapa sih? Mungkin mau ningkatin features kali ya? Commenting system kamu juga error kan? Makanya jangan heran kalo untuk sementara (mungkin seterusnya) saya ganti shout box ke sini.
Hmmh...rencananya sih, kalo besok Commenting Systemnya masih ngadat, saya mau coba pake yang ini ah. well anyway, thank to Doneeh semoga cepat sembuh.
Sepertinya sudah hampir 3 mingguan sejak Doneeh ngadat terus, saya mencoba mengunjungi rumahnya, eh malah ada keterangan Underconstruction, Ada apa dengan Doneeh (AADD) ya? *maksa banget* tapi sekarang sih sudah lumayan bisa login, walaupun ga bisa balas aau update shoutbox.
Aduuhh Doneeh kenapa sih? Mungkin mau ningkatin features kali ya? Commenting system kamu juga error kan? Makanya jangan heran kalo untuk sementara (mungkin seterusnya) saya ganti shout box ke sini.
Hmmh...rencananya sih, kalo besok Commenting Systemnya masih ngadat, saya mau coba pake yang ini ah. well anyway, thank to Doneeh semoga cepat sembuh.
Wednesday, June 16, 2004
Le' Art du Possibilities
Ternyata kalimat di atas dalam beberapa pekan riuh rendah proses pemilihan capres dan cawapres di Indonesia mendapat pembenarannya kembali. Betapa tidak, politik yang menganut asas seni berbagai macam kemungkinan (Le Art du Possibilities), seringkali menyuguhkan kepada kita berbagai cerita aneh, lucu, dan terkadang tak masuk akal.
Yang dahulunya bertikai, sekarang malah berjabat erat dan berangkulan menjadi kawan. Pada awalnya saling menghujat, eh... sekarang malah keliatan jalan bareng dan saling mendukung untuk pencalonan capres-cawapres 2004. Hi..hi.. kita tentu masih ingat dahulu tatkala Gus Dur dijatuhkan oleh Partai Golkar dengan Memorandum I, II dan kemudian di Impeachment (baca: diberhentikan) gara-gara tersandung kasus Bulog Gate I. Tak kalah langkah, kemudian PKB meng-kuyo-kuyo, Ketua Umumnya Akbar Tanjung, dengan kasus Bulog Gate Jilid II, sebagai balasan dari Bulog Gate I yang membuat Gus Dur jatuh.
Tidak hanya sampai di situ saja, Moh. Mahfud MD (Ketua PKB) memberikan statement:
'Bahwa sampai kapan pun PKB dan Golkar tidak pernah akan berkoalisi'.
Hal itu terungkap ketika ada pertanyaan mengenai kemungkinan PKB dan Patai Golkar berkoalisi dalam Pemilu 2004.
Belum habis proses pemilu 2004, sekarang kita bisa saksikan bahwa Wiranto Capres dari Partai Golkar menggandeng Sholahuddin Wahid, Ketua PBNU yang juga fungsionaris PKB sebagai Cawapresnya. Padahal kita tahu bahwa Wahid adalah salah satu Anggota Komnas HAM yang pernah menyidik Wiranto dalam dugaan pelanggaran HAM Tragedi Mei 1998.
Tidak usah heran, karena dalam politik segala sesuatunya menjadi mungkin, politik itu kan seni berbagai macam kemungkinan koq.
Maka benarlah tesisnya yang mengatakan bahwa:
Dalam politik itu tidak ada kawan dan lawan yang abadi, yang ada hanyalah Kepentingan yang abadi.
Ternyata kalimat di atas dalam beberapa pekan riuh rendah proses pemilihan capres dan cawapres di Indonesia mendapat pembenarannya kembali. Betapa tidak, politik yang menganut asas seni berbagai macam kemungkinan (Le Art du Possibilities), seringkali menyuguhkan kepada kita berbagai cerita aneh, lucu, dan terkadang tak masuk akal.
Yang dahulunya bertikai, sekarang malah berjabat erat dan berangkulan menjadi kawan. Pada awalnya saling menghujat, eh... sekarang malah keliatan jalan bareng dan saling mendukung untuk pencalonan capres-cawapres 2004. Hi..hi.. kita tentu masih ingat dahulu tatkala Gus Dur dijatuhkan oleh Partai Golkar dengan Memorandum I, II dan kemudian di Impeachment (baca: diberhentikan) gara-gara tersandung kasus Bulog Gate I. Tak kalah langkah, kemudian PKB meng-kuyo-kuyo, Ketua Umumnya Akbar Tanjung, dengan kasus Bulog Gate Jilid II, sebagai balasan dari Bulog Gate I yang membuat Gus Dur jatuh.
Tidak hanya sampai di situ saja, Moh. Mahfud MD (Ketua PKB) memberikan statement:
'Bahwa sampai kapan pun PKB dan Golkar tidak pernah akan berkoalisi'.
Hal itu terungkap ketika ada pertanyaan mengenai kemungkinan PKB dan Patai Golkar berkoalisi dalam Pemilu 2004.
Belum habis proses pemilu 2004, sekarang kita bisa saksikan bahwa Wiranto Capres dari Partai Golkar menggandeng Sholahuddin Wahid, Ketua PBNU yang juga fungsionaris PKB sebagai Cawapresnya. Padahal kita tahu bahwa Wahid adalah salah satu Anggota Komnas HAM yang pernah menyidik Wiranto dalam dugaan pelanggaran HAM Tragedi Mei 1998.
Tidak usah heran, karena dalam politik segala sesuatunya menjadi mungkin, politik itu kan seni berbagai macam kemungkinan koq.
Maka benarlah tesisnya yang mengatakan bahwa:
Dalam politik itu tidak ada kawan dan lawan yang abadi, yang ada hanyalah Kepentingan yang abadi.
Tuesday, May 25, 2004
It's Just Happened.....on the Bus
Seperti biasa setiap mau berangkat kerja aku harus naik Bis dari Jatibening. Macet. Sudah pasti, seperti sarapan sehari-hari bagi warga Jakarta dan sekitarnya yang nempel dengan Jakarta. Pilihanku jatuh pada P-17 jurusan Bekasi-Kota, paling tidak aku tidak perlu nyambung Bis lagi dan tinggal turun di Harmoni jika dibandingkan dengan naik AC-63 (Bekasi-Pasar Baru) atau AC-52 (Bekasi-Tanah Abang).
Bis sudah lumayan agak penuh, karena beberapa orang sudah nampak berdiri. Dan aku termasuk salah satunya, karena jangan pernah berharap dapat duduk kalo naik dari Jatibening. Berdiri sambil membaca koran adalah salah satu PW (posisi Wuenak) ketika berada di dalam Bis. Paling tidak bisa menghilangkan kesalnya macet, dan ngelamun gak jelas.
Baru beranjak sekitar 5 menit sejak bis berjalan dari Jatibening, tiba-tiba terdengar alunan dering poliphonic dari HP sebelahku. Maka terjadilah percakapan dengan lawan bicara di seberang sana.
'ya...halo, aduh mohon maaf nih kayaknya saya bakal telat. Abis macet banget nih. Saya sekarang posisinya baru sampai Polda (Komdak). Ok.. nanti saya hubungi lagi'
dan pembicaraan pun terputus. Kalo soal mencuri dengar sih, buat aku gak ada untungnya. Tapi yang menarik perhatianku saat si Bapak di sebelahku itu menjawab baru sampai Polda (Komdak), padahal jelas-jelas saat itu sampai cawang pun belum. Hah.... si Bapak menyangkal (baca:berbohong). Belum sampai 3 menitan sejak telpon yang pertama, kembali terdengar dering yang sama.
'Aduh.... tambah macet nih. sekarang saya udah di Thamrin, tambah parah malah macetnya. Tapi saya sekarang lagi di taksi biar cepet sampai sana. Udah ya... nanti saya hubungi lagi'
Hah... naik Taksi, padahal jelas-jelas ini masih dalam Tol. Gimana sih? lagian mana ada taksi yang naikin penumpang di Tol. (hi..hi..). Kali ini aku cuman senyum-senyum sambil mesem liatin si Bapak. Eh tenyata senyum saya ketangkep basah sama si Bapak tadi. Jadi sama-sama senyum deh... gak apa-apa kan yang paling tidak senyum itu shodaqoh. Dan gak disangka di Bapak tadi mecoba membuka percakapan denganku sambil berbisik tentunya, dan mecoba meyakinkan aku dengan memberikan justifikasi (pembenaran) atas pembicaraan yang barusan Ia lakukan.
'Hmmhm..... Itu.... tadi saya di telpon teman saya, Mas. Katanya... bla...bla... jadi saya bilang aja alasannya... bla..bla...., soalnya saya tadi berangkatnya agak telat dari rumah'
Saya cuman mengiyakan sambil menganguk dan sambil senyam-senyum, tanpa berusaha untuk mengomentari si Bapak tadi. Tapi mungkin ada satu pelajaran yang bisa kita peroleh. Dengan teknologi seluler seperti sekarang ini, kita tidak akan pernah tahu jika lawan bicara kita mengatakan bahwa Ia berada di suatu tempat tertentu. Mungkin saja kita akan percaya atau mungkin juga tidak.
Tetapi, ada hal yang menggelitik mengenai tindakan yang dilakukan di Bapak tadi, pernahkah kita bertanya kepada diri kita, bahwa kita juga (mungkin) pernah berbuat hal sama dengan yang dilakukan si Bapak tersebut, berbohong kepada teman kita, atasan, dan keluarga kita dan kita bersusah payah bahkan sampai mulut ini berbusa untuk berusaha sebaik mungkin memberikan eksplanasi bahkan pembenaran atas tindakan kita. Semoga Hal tersebut tidak pernah menimpa kita.
Seperti biasa setiap mau berangkat kerja aku harus naik Bis dari Jatibening. Macet. Sudah pasti, seperti sarapan sehari-hari bagi warga Jakarta dan sekitarnya yang nempel dengan Jakarta. Pilihanku jatuh pada P-17 jurusan Bekasi-Kota, paling tidak aku tidak perlu nyambung Bis lagi dan tinggal turun di Harmoni jika dibandingkan dengan naik AC-63 (Bekasi-Pasar Baru) atau AC-52 (Bekasi-Tanah Abang).
Bis sudah lumayan agak penuh, karena beberapa orang sudah nampak berdiri. Dan aku termasuk salah satunya, karena jangan pernah berharap dapat duduk kalo naik dari Jatibening. Berdiri sambil membaca koran adalah salah satu PW (posisi Wuenak) ketika berada di dalam Bis. Paling tidak bisa menghilangkan kesalnya macet, dan ngelamun gak jelas.
Baru beranjak sekitar 5 menit sejak bis berjalan dari Jatibening, tiba-tiba terdengar alunan dering poliphonic dari HP sebelahku. Maka terjadilah percakapan dengan lawan bicara di seberang sana.
'ya...halo, aduh mohon maaf nih kayaknya saya bakal telat. Abis macet banget nih. Saya sekarang posisinya baru sampai Polda (Komdak). Ok.. nanti saya hubungi lagi'
dan pembicaraan pun terputus. Kalo soal mencuri dengar sih, buat aku gak ada untungnya. Tapi yang menarik perhatianku saat si Bapak di sebelahku itu menjawab baru sampai Polda (Komdak), padahal jelas-jelas saat itu sampai cawang pun belum. Hah.... si Bapak menyangkal (baca:berbohong). Belum sampai 3 menitan sejak telpon yang pertama, kembali terdengar dering yang sama.
'Aduh.... tambah macet nih. sekarang saya udah di Thamrin, tambah parah malah macetnya. Tapi saya sekarang lagi di taksi biar cepet sampai sana. Udah ya... nanti saya hubungi lagi'
Hah... naik Taksi, padahal jelas-jelas ini masih dalam Tol. Gimana sih? lagian mana ada taksi yang naikin penumpang di Tol. (hi..hi..). Kali ini aku cuman senyum-senyum sambil mesem liatin si Bapak. Eh tenyata senyum saya ketangkep basah sama si Bapak tadi. Jadi sama-sama senyum deh... gak apa-apa kan yang paling tidak senyum itu shodaqoh. Dan gak disangka di Bapak tadi mecoba membuka percakapan denganku sambil berbisik tentunya, dan mecoba meyakinkan aku dengan memberikan justifikasi (pembenaran) atas pembicaraan yang barusan Ia lakukan.
'Hmmhm..... Itu.... tadi saya di telpon teman saya, Mas. Katanya... bla...bla... jadi saya bilang aja alasannya... bla..bla...., soalnya saya tadi berangkatnya agak telat dari rumah'
Saya cuman mengiyakan sambil menganguk dan sambil senyam-senyum, tanpa berusaha untuk mengomentari si Bapak tadi. Tapi mungkin ada satu pelajaran yang bisa kita peroleh. Dengan teknologi seluler seperti sekarang ini, kita tidak akan pernah tahu jika lawan bicara kita mengatakan bahwa Ia berada di suatu tempat tertentu. Mungkin saja kita akan percaya atau mungkin juga tidak.
Tetapi, ada hal yang menggelitik mengenai tindakan yang dilakukan di Bapak tadi, pernahkah kita bertanya kepada diri kita, bahwa kita juga (mungkin) pernah berbuat hal sama dengan yang dilakukan si Bapak tersebut, berbohong kepada teman kita, atasan, dan keluarga kita dan kita bersusah payah bahkan sampai mulut ini berbusa untuk berusaha sebaik mungkin memberikan eksplanasi bahkan pembenaran atas tindakan kita. Semoga Hal tersebut tidak pernah menimpa kita.
Friday, May 21, 2004
Empati
Entah sudah yang kali keberapa Ia menangis di pelukanku untuk mencurahkan segenap isi hatinya atau sekedar berbagi kebahagian. Airmata tak henti-hentinya mengalir dari pelupuk matanya yang sudah memerah sejak tadi. Aku yakin ini bukan tangis bahagia, ada sebentuk beban berat yang sedang ditanggung dipundaknya, walaupun tampak sedikit senyum yang menyungging dari sudut bibirnya yang mungil, tapi tetap tak mampu untuk menyembunyikan kegundahan yang melanda hatinya.
Ketika Ia mulai bercerita tentang kepedihan yang menyertainya, tak terasa ada butiran air hangat yang mengalir di pelupuk mataku. Walaupun mencoba untuk menegarkan diri agar tak menangis di hadapannya, Aku tak kuasa untuk membendung derasnya air mata ini. Aku hanya sanggup berkata lirih:
Ya Allah.....
Dik, semoga Allah selalu memberikan kesabaran kepadamu dalam menghadapi segala macam ujian. karena pada hakekatnya bukankah kita semua berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya?
Dik... terlalu banyak nikmat yang kita peroleh jika dibandingkan dengan segala yang Adik dan aku derita selama ini sekalipun, ini masih belum seberapanya.
Dik... mudah-mudahan kita tidak termasuk orang-orang selalu mendustakan nikmatnya.
Dik... bukankah Adik ingat akan firman-Nya yang mengatakan:
`Barang siapa yang tidak bersyukur atas nikmat-Ku, tidak bersabar atas bala`-Ku, Keluarlah dari kolong langit-Ku dan carilah Tuhan selain Aku`
Padahal kita tau Dik.... kemana lagi kita akan mencari Tuhan selain Dia. Dialah Tuhan satu-satunya.
Bersabarlah Dik, Ingatkah kita bersama telah mengikrarkan mitstaqon ghaliza di hadapan-Nya. Bukankah Dia hanya menyebutnya kata tersebut 3 kali bahkan di dalam Kalam-Nya.
Semoga Allah senantiasa membimbing langkah-langkah kita.
Entah mengapa saat itu, aku merasa lemah sekaligus kuat pada saat yang bersamaan.
Entah sudah yang kali keberapa Ia menangis di pelukanku untuk mencurahkan segenap isi hatinya atau sekedar berbagi kebahagian. Airmata tak henti-hentinya mengalir dari pelupuk matanya yang sudah memerah sejak tadi. Aku yakin ini bukan tangis bahagia, ada sebentuk beban berat yang sedang ditanggung dipundaknya, walaupun tampak sedikit senyum yang menyungging dari sudut bibirnya yang mungil, tapi tetap tak mampu untuk menyembunyikan kegundahan yang melanda hatinya.
Ketika Ia mulai bercerita tentang kepedihan yang menyertainya, tak terasa ada butiran air hangat yang mengalir di pelupuk mataku. Walaupun mencoba untuk menegarkan diri agar tak menangis di hadapannya, Aku tak kuasa untuk membendung derasnya air mata ini. Aku hanya sanggup berkata lirih:
Ya Allah.....
Dik, semoga Allah selalu memberikan kesabaran kepadamu dalam menghadapi segala macam ujian. karena pada hakekatnya bukankah kita semua berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya?
Dik... terlalu banyak nikmat yang kita peroleh jika dibandingkan dengan segala yang Adik dan aku derita selama ini sekalipun, ini masih belum seberapanya.
Dik... mudah-mudahan kita tidak termasuk orang-orang selalu mendustakan nikmatnya.
Dik... bukankah Adik ingat akan firman-Nya yang mengatakan:
`Barang siapa yang tidak bersyukur atas nikmat-Ku, tidak bersabar atas bala`-Ku, Keluarlah dari kolong langit-Ku dan carilah Tuhan selain Aku`
Padahal kita tau Dik.... kemana lagi kita akan mencari Tuhan selain Dia. Dialah Tuhan satu-satunya.
Bersabarlah Dik, Ingatkah kita bersama telah mengikrarkan mitstaqon ghaliza di hadapan-Nya. Bukankah Dia hanya menyebutnya kata tersebut 3 kali bahkan di dalam Kalam-Nya.
Semoga Allah senantiasa membimbing langkah-langkah kita.
Entah mengapa saat itu, aku merasa lemah sekaligus kuat pada saat yang bersamaan.
Subscribe to:
Posts (Atom)