Wednesday, June 16, 2004

Le' Art du Possibilities

Ternyata kalimat di atas dalam beberapa pekan riuh rendah proses pemilihan capres dan cawapres di Indonesia mendapat pembenarannya kembali. Betapa tidak, politik yang menganut asas seni berbagai macam kemungkinan (Le Art du Possibilities), seringkali menyuguhkan kepada kita berbagai cerita aneh, lucu, dan terkadang tak masuk akal.

Yang dahulunya bertikai, sekarang malah berjabat erat dan berangkulan menjadi kawan. Pada awalnya saling menghujat, eh... sekarang malah keliatan jalan bareng dan saling mendukung untuk pencalonan capres-cawapres 2004. Hi..hi.. kita tentu masih ingat dahulu tatkala Gus Dur dijatuhkan oleh Partai Golkar dengan Memorandum I, II dan kemudian di Impeachment (baca: diberhentikan) gara-gara tersandung kasus Bulog Gate I. Tak kalah langkah, kemudian PKB meng-kuyo-kuyo, Ketua Umumnya Akbar Tanjung, dengan kasus Bulog Gate Jilid II, sebagai balasan dari Bulog Gate I yang membuat Gus Dur jatuh.

Tidak hanya sampai di situ saja, Moh. Mahfud MD (Ketua PKB) memberikan statement:

'Bahwa sampai kapan pun PKB dan Golkar tidak pernah akan berkoalisi'.

Hal itu terungkap ketika ada pertanyaan mengenai kemungkinan PKB dan Patai Golkar berkoalisi dalam Pemilu 2004.

Belum habis proses pemilu 2004, sekarang kita bisa saksikan bahwa Wiranto Capres dari Partai Golkar menggandeng Sholahuddin Wahid, Ketua PBNU yang juga fungsionaris PKB sebagai Cawapresnya. Padahal kita tahu bahwa Wahid adalah salah satu Anggota Komnas HAM yang pernah menyidik Wiranto dalam dugaan pelanggaran HAM Tragedi Mei 1998.

Tidak usah heran, karena dalam politik segala sesuatunya menjadi mungkin, politik itu kan seni berbagai macam kemungkinan koq.

Maka benarlah tesisnya yang mengatakan bahwa:

Dalam politik itu tidak ada kawan dan lawan yang abadi, yang ada hanyalah Kepentingan yang abadi.