Friday, January 30, 2004

Lima Menguak Akbar: Menanti Putusan Kasasi MA

Dear Bloggerian,

Beberapa hari dalam seminggu ini perhatian kita di indonesia terfokus pada penantian keluarnya putusan MA (Mahkamah Agung) tentang Permohonan Kasasi Akbar Tanjung. Selain berita kesibukan tentang maraknya pencalonan para Caleg para peserta Pemilu 2004 serta mewabahnya Flu Burung yang sedang melanda Indonesia, penantian akan keluarnya Putusan MA tersebut rasanya layak untuk ditunggu. Karena kembali, MA sebagai the last bastion of justice, akan diuji apakah hukum di indonesia ini masih memihak kepada kebenaran ataukah tidak.

Judul di atas terinspirasi dari antologi puisi Tiga Menguak Takdir karya Chairil Anwar-Asrul Sani-Rivai Apin, yang kebetulan, majelis yang memeriksa Permohonan Kasasi Akbar ini berjumlah 5 orang. Lima orang Hakim Agung yang memeriksa merupakan hakim agung yang proses pemilihannya dilakukan dengan fit and profer test yang notabene dilakukan oleh DPR. Akankah terjadi conflict of interest para Hakim Agung yang memeriksa akbar, Atau adakah deal politk tertentu yang nantinya akan mempengaruhi keputusan mereka?

Akbar Tanjung adalah Ketua Umum Partai Golkar yang juga Ketua DPR itu telah divonis bersalah melakukan korupsi penyalahgunaan dana non-budgeter Bulog oleh Pengadilan Jakarta Pusat. Putusan PN Jakarta Pusat tersebut kemudian dikuatkan dengan Putusan Pengadilan Tinggi DKI Jakarta. Akbar memang masih mempunyai hak untuk melakukan upaya hukum, yaitu mengajukan Kasasi ke MA. Ketika para hakim agung tersebut memutuskan Akbar, sesungguhnya mereka tidak hanya mempertaruhkan kredibilitas mereka sebagai hakim agung yang sedang diuji, tetapi juga turut menentukan apakah reformasi di bidang hukum yang digaungkan tahun 1998 silam telah berbuah.

Negeri ini sesungguhnya membutuhkan penegakan hukum yang sifatnya radikal. Di negeri terkorup 5 besar se-dunia ini nyatanya masih sedikit koruptor yang di kirim ke hotel prodeo (penjara-red). Persetan dengan tuduhan melanggar HAM, karena korupsi sendiri sebenarnya merupakan pelanggaran HAM yang sangat berat. Bahkan bisa dikatakan sebagai the ultimate crime against humanity. Karena pada dasarnya ketika seseorang (apalagi pejabat negara) melakukan korupsi, sesungguhnya pada saat yang bersamaan ia telah mengkhianati kepercayaan atau kontrak sosial yang telah dibuat dirinya dengan masyarakat yang dipimpinnya.

Sekarang kita tinggal menunggu dan berharap semoga MA memutus selain dengan pertimbangan hukum yang argumentatif juga dengan mempertimbangkan hati nurani dan rasa keadilan yang berkembang di masyarakat serta berpihak kepada keadilan. Karena jika sampai hal itu tidak terjadi, maka alih-alih upaya perbaikan hukum yang ada, yang terjadi adalah semakin busuknya hukum di indonesia. Dan, semakin sempurnalah kekalahan republik ini, kita dijerat utang yang semakin banyak, pengangguran merajalela, korupsi membudaya, dan jika saat itu telah tiba, relakan saja para bajingan dan bangsat yang memimpin bangsa ini.

Semoga Hal itu tidak akan pernah terjadi. Amien.

Tuesday, January 20, 2004

It's All About Love (again and again...)

Membincangkan soal cinta memang selalu menarik dan tak akan pernah ada habisnya, kata orang, cinta itu memang indah. Cinta adalah energi yang mampu memberikan kekuatan yang dahsyat. Dalam tataran cinta antar lawan jenis, sering kali cinta membuat pelakunya tertawa sekaligus menangis. Cinta memang unik. Datang tanpa diundang dan pergi pun tanpa diminta. Tiba-tiba ada dan mengalir dalam jiwa. Kita pun hanyut dalam menikmatinya. Makanya nggak salah-salah amat kalau akhirnya Ebiet G. Ade, seniman yang puisinya sering dimusikalisasi ini bertanya: *Apakah ada bedanya, saat kita bertemu dengan saat kita berpisah?* Jawabnya, masih dalam lagu yang sama, sama-sama nikmat! Percaya atu tidak, terserah.

Kalau api cinta sudah membara kadang kala sulit untuk dipadamkan. Sam yang diperankan Tom Hanks yang begitu kesepian gara-gara ditinggal mati oleh istri tercintanya, mendadak jatuh hati kepada seorang wanita cantik dan keibuan yang berhasil diperankan dengan mantap oleh Meg Ryan dalam film Sleepless In Seattle. Munculnya pun sederhana saja. Anaknya Sam menelepon sebuah stasiun radio yang sedang menyiarkan acara semacam dari hati ke hati.

Si anak mengungkapkan bahwa ayahnya tak pernah bisa tidur sejak ditinggal mati ibunya. Tanpa sengaja, seorang wanita yang berhati lembut yang diperankan dengan cantik oleh Meg Ryan juga sedang mendengarkan siaran radio tersebut di mobilnya. Ia terenyuh dengan omongan si anak itu. Akhirnya ia mencari. Bertemu dan happy ending.

Pun cinta kadangkala tumbuh hanya karena merasa iba dengan curahan hati seseorang. Seperti Robin Wright Penn yang memerankan Theresa Osborne. Ia yang kesepian akibat perceraian kemudian jatuh cinta gara-gara menemukan sebuah botol yang terapung-apung di pantai. Setelah diambil, ia membuka botol dan didapatinya secarik kertas bertuliskan curahan hati seorang pria dengan begitu romantis--karena ditinggal mati istrinya--di botol itu hanya tertulis inisial G. Yang belakangan ketahuan bahwa pria itu adalah Garret Blake yang diperankan dengan matang oleh Kevin Costner dalam film Message in a Bottle.

Aih...Cinta...Cinta.....