Kebingungan dan Kebahagian
Sudah sekitar lima bulanan ini, hati senantiasa diliputi sebuah rasa yang membingungkan sekaligus membahagiakan. Rasa ingin selalu bertemu, ingin bersama, bermanja, menatap, menyentuh, dan melindungi sebuah nama yang kemudian berubah menjadi panggilan kasih sayang dan rindu. Mungkinkah ini yang namanya RASA CINTA BERBUAH RASA RINDU, MEMBAHAGIAKAN DAN MEMBINGUNGKAN?
Bagaimana tidak membingungkan, saya merasa sebagai seorang yang cukup rasional, terlebih dalam hal masalah uang. He..he... Semua pengeluaran saya usahakan diperhitungkan sebelumnya, sehingga oleh sebagian orang saya dianggap pelit. Tetapi, demi rasa itu, uang berubah wujud menjadi pulsa-pulsa telepon dalam hitungan menit. HANYA KARENA INGIN MENDENGAR SEBUAH SUARA, UNTUK MEMASTIKAN SEBUAH SUARA, UNTUK MEMASTIKAN SEBUAH KEADAAN, DEMI MEMUASKAN SEBUAH RASA: RINDU!!
Bagaimana tidak membingungkan, saya sudah cukup rasional dalam hal menggunakan waktu. Sebagian orang menganggap saya sulit dilacak keberadaannya *padahal ada di kantor terus* Tetapi semua itu berubah begitu saja ketika saya harus menghabiskan waktu dua jam perjalanan pergi dan dua jam perjalanan pulang, HANYA UNTUK MELIHAT SERAUT WAJAH, MENYENTUH JEMARI, DAN MENCIUM AROMA KHAS TUBUH SEORANG MANUSIA.
Saya merasa cukup logis untuk menentukan apa dan siapa yang layak saya cintai, sehingga sebagian orang menyatakan saya tidak punya perasaan. Tetapi semua itu berubah, KETIKA SAYA MENGINGATNYA, BERDEKATAN DENGANNYA. LOGIKA TERNYATA TAK BERFUNGSI DI SINI. Logikaku mati!! Namun, seperti sudah saya katakan bahwa semua bentuk kehilangan logika itu berbuah hal yang tak bisa dilogikakan sama sekali: BAHAGIA!!
Ada apa?!
Ya... alhamdulillah sekitar 5 bulanan ini, ada seorang wanita yang bersedia memberikan cintanya padaku. Sebuah karunia yang harus aku syukuri. Ia memberikan Cinta itu setelah melalui prosesi DILAMAR dan setalah mengikrarkan sebuah janji MISTAQON GHALIZA DI HADAPAN PENGHULU. Ya...WANITA INILAH ISTRIKU, YANG BERUBAH NAMANYA DARI SEKEDAR SEBUAH NAMA MENJADI PANGGILAN KASIH DAN SAYANG.
SEMOGA ALLAH MENGEKALKAN KITA. AMIEN.
Inspired by article: Kekasihku Pacarku (Muhammad Aga S)
Friday, July 23, 2004
Wednesday, July 21, 2004
Bataviawood
Dari pada pusing mikirin politik yang penuh intrik, rekayasa dan rekausaha, mending posting yang ringan-ringan aja kali ya....
Berikut ini daftar film-film unggulan Hollywood versi Batavia. Hanya ada di Condet Cineplex-Eplex 21, kalo masih kurang tambah sendiri aje yee....
1. Musuh di pager-pager (Enemy at the Gates)
2. Orang Kalong selamanya (Batman Forever)
3. Inget si Titan (Remember the Titans)
4. Kerjaan Orang Italia (The Italian Job)
5. Kagak Ada Matinye (Die Hard 1, 2, 3)
6. Bocah Bengal (Bad Boys 1, 2)
7. Gak Bisa Tidur di Seattle (Sleepless in Seattle)
8. Nyasar di Ruang Angkasa (Lost in Space)
9. Mantan Pria (X-Men)
10. Lebih Murah Beli Selusin (Cheaper by Dozen)
11. Kulkas (The Cooler)
12. Asyik Gajiaaan (Paycheck)
13. Tujuh Belasan (Independence Day)
14. Besok Lusa (The Day After Tomorrow)
15. Mati Entar Aje (Die Another Day)
16. Ada Ape ame Si Marry (There is Something About Marry)
17. Kambing aje Diem (Silence of the Lamb)
18. Semua Kuda Kece (All The Pretty Horses)
19. Planetnya Monyet-monyet Pade (Planet of the Apes)
20. Minggat Semenit (Gone in Sixty Second)
21. Dosa Asli (Original Sin)
22. Mama Kembalilah, Kembalilah (Mummy Returns)
23. Sum Takut ama Semua (The Sum All Fears) *Jangan takut dong mbak sum*
24. Tangisan Sun (Tears of The Sun) *Tabah ya mbak Sun...*
25. Laris Manis (The Abyss)
26. Kucing Ngopi (Copycat)
27. Roti Nyemplung di Laut (Seabiscuit)
28. Musuhan (Freddy vs Jason)
29. Calo Terminal (Terminator)
30. Awas Banjir (Air Bud)
31. Laporan bikin Repot (Minority Reports)
32. Vanilla Rasanya seLangit (Vanilla Sky)
33. Kiamat Udeh Deket (Armageddon)
Dari pada pusing mikirin politik yang penuh intrik, rekayasa dan rekausaha, mending posting yang ringan-ringan aja kali ya....
Berikut ini daftar film-film unggulan Hollywood versi Batavia. Hanya ada di Condet Cineplex-Eplex 21, kalo masih kurang tambah sendiri aje yee....
1. Musuh di pager-pager (Enemy at the Gates)
2. Orang Kalong selamanya (Batman Forever)
3. Inget si Titan (Remember the Titans)
4. Kerjaan Orang Italia (The Italian Job)
5. Kagak Ada Matinye (Die Hard 1, 2, 3)
6. Bocah Bengal (Bad Boys 1, 2)
7. Gak Bisa Tidur di Seattle (Sleepless in Seattle)
8. Nyasar di Ruang Angkasa (Lost in Space)
9. Mantan Pria (X-Men)
10. Lebih Murah Beli Selusin (Cheaper by Dozen)
11. Kulkas (The Cooler)
12. Asyik Gajiaaan (Paycheck)
13. Tujuh Belasan (Independence Day)
14. Besok Lusa (The Day After Tomorrow)
15. Mati Entar Aje (Die Another Day)
16. Ada Ape ame Si Marry (There is Something About Marry)
17. Kambing aje Diem (Silence of the Lamb)
18. Semua Kuda Kece (All The Pretty Horses)
19. Planetnya Monyet-monyet Pade (Planet of the Apes)
20. Minggat Semenit (Gone in Sixty Second)
21. Dosa Asli (Original Sin)
22. Mama Kembalilah, Kembalilah (Mummy Returns)
23. Sum Takut ama Semua (The Sum All Fears) *Jangan takut dong mbak sum*
24. Tangisan Sun (Tears of The Sun) *Tabah ya mbak Sun...*
25. Laris Manis (The Abyss)
26. Kucing Ngopi (Copycat)
27. Roti Nyemplung di Laut (Seabiscuit)
28. Musuhan (Freddy vs Jason)
29. Calo Terminal (Terminator)
30. Awas Banjir (Air Bud)
31. Laporan bikin Repot (Minority Reports)
32. Vanilla Rasanya seLangit (Vanilla Sky)
33. Kiamat Udeh Deket (Armageddon)
Tuesday, July 20, 2004
Bongkar Pasang ShoutBox dan Commenting System
Sepertinya sudah hampir 3 mingguan sejak Doneeh ngadat terus, saya mencoba mengunjungi rumahnya, eh malah ada keterangan Underconstruction, Ada apa dengan Doneeh (AADD) ya? *maksa banget* tapi sekarang sih sudah lumayan bisa login, walaupun ga bisa balas aau update shoutbox.
Aduuhh Doneeh kenapa sih? Mungkin mau ningkatin features kali ya? Commenting system kamu juga error kan? Makanya jangan heran kalo untuk sementara (mungkin seterusnya) saya ganti shout box ke sini.
Hmmh...rencananya sih, kalo besok Commenting Systemnya masih ngadat, saya mau coba pake yang ini ah. well anyway, thank to Doneeh semoga cepat sembuh.
Sepertinya sudah hampir 3 mingguan sejak Doneeh ngadat terus, saya mencoba mengunjungi rumahnya, eh malah ada keterangan Underconstruction, Ada apa dengan Doneeh (AADD) ya? *maksa banget* tapi sekarang sih sudah lumayan bisa login, walaupun ga bisa balas aau update shoutbox.
Aduuhh Doneeh kenapa sih? Mungkin mau ningkatin features kali ya? Commenting system kamu juga error kan? Makanya jangan heran kalo untuk sementara (mungkin seterusnya) saya ganti shout box ke sini.
Hmmh...rencananya sih, kalo besok Commenting Systemnya masih ngadat, saya mau coba pake yang ini ah. well anyway, thank to Doneeh semoga cepat sembuh.
Wednesday, June 16, 2004
Le' Art du Possibilities
Ternyata kalimat di atas dalam beberapa pekan riuh rendah proses pemilihan capres dan cawapres di Indonesia mendapat pembenarannya kembali. Betapa tidak, politik yang menganut asas seni berbagai macam kemungkinan (Le Art du Possibilities), seringkali menyuguhkan kepada kita berbagai cerita aneh, lucu, dan terkadang tak masuk akal.
Yang dahulunya bertikai, sekarang malah berjabat erat dan berangkulan menjadi kawan. Pada awalnya saling menghujat, eh... sekarang malah keliatan jalan bareng dan saling mendukung untuk pencalonan capres-cawapres 2004. Hi..hi.. kita tentu masih ingat dahulu tatkala Gus Dur dijatuhkan oleh Partai Golkar dengan Memorandum I, II dan kemudian di Impeachment (baca: diberhentikan) gara-gara tersandung kasus Bulog Gate I. Tak kalah langkah, kemudian PKB meng-kuyo-kuyo, Ketua Umumnya Akbar Tanjung, dengan kasus Bulog Gate Jilid II, sebagai balasan dari Bulog Gate I yang membuat Gus Dur jatuh.
Tidak hanya sampai di situ saja, Moh. Mahfud MD (Ketua PKB) memberikan statement:
'Bahwa sampai kapan pun PKB dan Golkar tidak pernah akan berkoalisi'.
Hal itu terungkap ketika ada pertanyaan mengenai kemungkinan PKB dan Patai Golkar berkoalisi dalam Pemilu 2004.
Belum habis proses pemilu 2004, sekarang kita bisa saksikan bahwa Wiranto Capres dari Partai Golkar menggandeng Sholahuddin Wahid, Ketua PBNU yang juga fungsionaris PKB sebagai Cawapresnya. Padahal kita tahu bahwa Wahid adalah salah satu Anggota Komnas HAM yang pernah menyidik Wiranto dalam dugaan pelanggaran HAM Tragedi Mei 1998.
Tidak usah heran, karena dalam politik segala sesuatunya menjadi mungkin, politik itu kan seni berbagai macam kemungkinan koq.
Maka benarlah tesisnya yang mengatakan bahwa:
Dalam politik itu tidak ada kawan dan lawan yang abadi, yang ada hanyalah Kepentingan yang abadi.
Ternyata kalimat di atas dalam beberapa pekan riuh rendah proses pemilihan capres dan cawapres di Indonesia mendapat pembenarannya kembali. Betapa tidak, politik yang menganut asas seni berbagai macam kemungkinan (Le Art du Possibilities), seringkali menyuguhkan kepada kita berbagai cerita aneh, lucu, dan terkadang tak masuk akal.
Yang dahulunya bertikai, sekarang malah berjabat erat dan berangkulan menjadi kawan. Pada awalnya saling menghujat, eh... sekarang malah keliatan jalan bareng dan saling mendukung untuk pencalonan capres-cawapres 2004. Hi..hi.. kita tentu masih ingat dahulu tatkala Gus Dur dijatuhkan oleh Partai Golkar dengan Memorandum I, II dan kemudian di Impeachment (baca: diberhentikan) gara-gara tersandung kasus Bulog Gate I. Tak kalah langkah, kemudian PKB meng-kuyo-kuyo, Ketua Umumnya Akbar Tanjung, dengan kasus Bulog Gate Jilid II, sebagai balasan dari Bulog Gate I yang membuat Gus Dur jatuh.
Tidak hanya sampai di situ saja, Moh. Mahfud MD (Ketua PKB) memberikan statement:
'Bahwa sampai kapan pun PKB dan Golkar tidak pernah akan berkoalisi'.
Hal itu terungkap ketika ada pertanyaan mengenai kemungkinan PKB dan Patai Golkar berkoalisi dalam Pemilu 2004.
Belum habis proses pemilu 2004, sekarang kita bisa saksikan bahwa Wiranto Capres dari Partai Golkar menggandeng Sholahuddin Wahid, Ketua PBNU yang juga fungsionaris PKB sebagai Cawapresnya. Padahal kita tahu bahwa Wahid adalah salah satu Anggota Komnas HAM yang pernah menyidik Wiranto dalam dugaan pelanggaran HAM Tragedi Mei 1998.
Tidak usah heran, karena dalam politik segala sesuatunya menjadi mungkin, politik itu kan seni berbagai macam kemungkinan koq.
Maka benarlah tesisnya yang mengatakan bahwa:
Dalam politik itu tidak ada kawan dan lawan yang abadi, yang ada hanyalah Kepentingan yang abadi.
Tuesday, May 25, 2004
It's Just Happened.....on the Bus
Seperti biasa setiap mau berangkat kerja aku harus naik Bis dari Jatibening. Macet. Sudah pasti, seperti sarapan sehari-hari bagi warga Jakarta dan sekitarnya yang nempel dengan Jakarta. Pilihanku jatuh pada P-17 jurusan Bekasi-Kota, paling tidak aku tidak perlu nyambung Bis lagi dan tinggal turun di Harmoni jika dibandingkan dengan naik AC-63 (Bekasi-Pasar Baru) atau AC-52 (Bekasi-Tanah Abang).
Bis sudah lumayan agak penuh, karena beberapa orang sudah nampak berdiri. Dan aku termasuk salah satunya, karena jangan pernah berharap dapat duduk kalo naik dari Jatibening. Berdiri sambil membaca koran adalah salah satu PW (posisi Wuenak) ketika berada di dalam Bis. Paling tidak bisa menghilangkan kesalnya macet, dan ngelamun gak jelas.
Baru beranjak sekitar 5 menit sejak bis berjalan dari Jatibening, tiba-tiba terdengar alunan dering poliphonic dari HP sebelahku. Maka terjadilah percakapan dengan lawan bicara di seberang sana.
'ya...halo, aduh mohon maaf nih kayaknya saya bakal telat. Abis macet banget nih. Saya sekarang posisinya baru sampai Polda (Komdak). Ok.. nanti saya hubungi lagi'
dan pembicaraan pun terputus. Kalo soal mencuri dengar sih, buat aku gak ada untungnya. Tapi yang menarik perhatianku saat si Bapak di sebelahku itu menjawab baru sampai Polda (Komdak), padahal jelas-jelas saat itu sampai cawang pun belum. Hah.... si Bapak menyangkal (baca:berbohong). Belum sampai 3 menitan sejak telpon yang pertama, kembali terdengar dering yang sama.
'Aduh.... tambah macet nih. sekarang saya udah di Thamrin, tambah parah malah macetnya. Tapi saya sekarang lagi di taksi biar cepet sampai sana. Udah ya... nanti saya hubungi lagi'
Hah... naik Taksi, padahal jelas-jelas ini masih dalam Tol. Gimana sih? lagian mana ada taksi yang naikin penumpang di Tol. (hi..hi..). Kali ini aku cuman senyum-senyum sambil mesem liatin si Bapak. Eh tenyata senyum saya ketangkep basah sama si Bapak tadi. Jadi sama-sama senyum deh... gak apa-apa kan yang paling tidak senyum itu shodaqoh. Dan gak disangka di Bapak tadi mecoba membuka percakapan denganku sambil berbisik tentunya, dan mecoba meyakinkan aku dengan memberikan justifikasi (pembenaran) atas pembicaraan yang barusan Ia lakukan.
'Hmmhm..... Itu.... tadi saya di telpon teman saya, Mas. Katanya... bla...bla... jadi saya bilang aja alasannya... bla..bla...., soalnya saya tadi berangkatnya agak telat dari rumah'
Saya cuman mengiyakan sambil menganguk dan sambil senyam-senyum, tanpa berusaha untuk mengomentari si Bapak tadi. Tapi mungkin ada satu pelajaran yang bisa kita peroleh. Dengan teknologi seluler seperti sekarang ini, kita tidak akan pernah tahu jika lawan bicara kita mengatakan bahwa Ia berada di suatu tempat tertentu. Mungkin saja kita akan percaya atau mungkin juga tidak.
Tetapi, ada hal yang menggelitik mengenai tindakan yang dilakukan di Bapak tadi, pernahkah kita bertanya kepada diri kita, bahwa kita juga (mungkin) pernah berbuat hal sama dengan yang dilakukan si Bapak tersebut, berbohong kepada teman kita, atasan, dan keluarga kita dan kita bersusah payah bahkan sampai mulut ini berbusa untuk berusaha sebaik mungkin memberikan eksplanasi bahkan pembenaran atas tindakan kita. Semoga Hal tersebut tidak pernah menimpa kita.
Seperti biasa setiap mau berangkat kerja aku harus naik Bis dari Jatibening. Macet. Sudah pasti, seperti sarapan sehari-hari bagi warga Jakarta dan sekitarnya yang nempel dengan Jakarta. Pilihanku jatuh pada P-17 jurusan Bekasi-Kota, paling tidak aku tidak perlu nyambung Bis lagi dan tinggal turun di Harmoni jika dibandingkan dengan naik AC-63 (Bekasi-Pasar Baru) atau AC-52 (Bekasi-Tanah Abang).
Bis sudah lumayan agak penuh, karena beberapa orang sudah nampak berdiri. Dan aku termasuk salah satunya, karena jangan pernah berharap dapat duduk kalo naik dari Jatibening. Berdiri sambil membaca koran adalah salah satu PW (posisi Wuenak) ketika berada di dalam Bis. Paling tidak bisa menghilangkan kesalnya macet, dan ngelamun gak jelas.
Baru beranjak sekitar 5 menit sejak bis berjalan dari Jatibening, tiba-tiba terdengar alunan dering poliphonic dari HP sebelahku. Maka terjadilah percakapan dengan lawan bicara di seberang sana.
'ya...halo, aduh mohon maaf nih kayaknya saya bakal telat. Abis macet banget nih. Saya sekarang posisinya baru sampai Polda (Komdak). Ok.. nanti saya hubungi lagi'
dan pembicaraan pun terputus. Kalo soal mencuri dengar sih, buat aku gak ada untungnya. Tapi yang menarik perhatianku saat si Bapak di sebelahku itu menjawab baru sampai Polda (Komdak), padahal jelas-jelas saat itu sampai cawang pun belum. Hah.... si Bapak menyangkal (baca:berbohong). Belum sampai 3 menitan sejak telpon yang pertama, kembali terdengar dering yang sama.
'Aduh.... tambah macet nih. sekarang saya udah di Thamrin, tambah parah malah macetnya. Tapi saya sekarang lagi di taksi biar cepet sampai sana. Udah ya... nanti saya hubungi lagi'
Hah... naik Taksi, padahal jelas-jelas ini masih dalam Tol. Gimana sih? lagian mana ada taksi yang naikin penumpang di Tol. (hi..hi..). Kali ini aku cuman senyum-senyum sambil mesem liatin si Bapak. Eh tenyata senyum saya ketangkep basah sama si Bapak tadi. Jadi sama-sama senyum deh... gak apa-apa kan yang paling tidak senyum itu shodaqoh. Dan gak disangka di Bapak tadi mecoba membuka percakapan denganku sambil berbisik tentunya, dan mecoba meyakinkan aku dengan memberikan justifikasi (pembenaran) atas pembicaraan yang barusan Ia lakukan.
'Hmmhm..... Itu.... tadi saya di telpon teman saya, Mas. Katanya... bla...bla... jadi saya bilang aja alasannya... bla..bla...., soalnya saya tadi berangkatnya agak telat dari rumah'
Saya cuman mengiyakan sambil menganguk dan sambil senyam-senyum, tanpa berusaha untuk mengomentari si Bapak tadi. Tapi mungkin ada satu pelajaran yang bisa kita peroleh. Dengan teknologi seluler seperti sekarang ini, kita tidak akan pernah tahu jika lawan bicara kita mengatakan bahwa Ia berada di suatu tempat tertentu. Mungkin saja kita akan percaya atau mungkin juga tidak.
Tetapi, ada hal yang menggelitik mengenai tindakan yang dilakukan di Bapak tadi, pernahkah kita bertanya kepada diri kita, bahwa kita juga (mungkin) pernah berbuat hal sama dengan yang dilakukan si Bapak tersebut, berbohong kepada teman kita, atasan, dan keluarga kita dan kita bersusah payah bahkan sampai mulut ini berbusa untuk berusaha sebaik mungkin memberikan eksplanasi bahkan pembenaran atas tindakan kita. Semoga Hal tersebut tidak pernah menimpa kita.
Friday, May 21, 2004
Empati
Entah sudah yang kali keberapa Ia menangis di pelukanku untuk mencurahkan segenap isi hatinya atau sekedar berbagi kebahagian. Airmata tak henti-hentinya mengalir dari pelupuk matanya yang sudah memerah sejak tadi. Aku yakin ini bukan tangis bahagia, ada sebentuk beban berat yang sedang ditanggung dipundaknya, walaupun tampak sedikit senyum yang menyungging dari sudut bibirnya yang mungil, tapi tetap tak mampu untuk menyembunyikan kegundahan yang melanda hatinya.
Ketika Ia mulai bercerita tentang kepedihan yang menyertainya, tak terasa ada butiran air hangat yang mengalir di pelupuk mataku. Walaupun mencoba untuk menegarkan diri agar tak menangis di hadapannya, Aku tak kuasa untuk membendung derasnya air mata ini. Aku hanya sanggup berkata lirih:
Ya Allah.....
Dik, semoga Allah selalu memberikan kesabaran kepadamu dalam menghadapi segala macam ujian. karena pada hakekatnya bukankah kita semua berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya?
Dik... terlalu banyak nikmat yang kita peroleh jika dibandingkan dengan segala yang Adik dan aku derita selama ini sekalipun, ini masih belum seberapanya.
Dik... mudah-mudahan kita tidak termasuk orang-orang selalu mendustakan nikmatnya.
Dik... bukankah Adik ingat akan firman-Nya yang mengatakan:
`Barang siapa yang tidak bersyukur atas nikmat-Ku, tidak bersabar atas bala`-Ku, Keluarlah dari kolong langit-Ku dan carilah Tuhan selain Aku`
Padahal kita tau Dik.... kemana lagi kita akan mencari Tuhan selain Dia. Dialah Tuhan satu-satunya.
Bersabarlah Dik, Ingatkah kita bersama telah mengikrarkan mitstaqon ghaliza di hadapan-Nya. Bukankah Dia hanya menyebutnya kata tersebut 3 kali bahkan di dalam Kalam-Nya.
Semoga Allah senantiasa membimbing langkah-langkah kita.
Entah mengapa saat itu, aku merasa lemah sekaligus kuat pada saat yang bersamaan.
Entah sudah yang kali keberapa Ia menangis di pelukanku untuk mencurahkan segenap isi hatinya atau sekedar berbagi kebahagian. Airmata tak henti-hentinya mengalir dari pelupuk matanya yang sudah memerah sejak tadi. Aku yakin ini bukan tangis bahagia, ada sebentuk beban berat yang sedang ditanggung dipundaknya, walaupun tampak sedikit senyum yang menyungging dari sudut bibirnya yang mungil, tapi tetap tak mampu untuk menyembunyikan kegundahan yang melanda hatinya.
Ketika Ia mulai bercerita tentang kepedihan yang menyertainya, tak terasa ada butiran air hangat yang mengalir di pelupuk mataku. Walaupun mencoba untuk menegarkan diri agar tak menangis di hadapannya, Aku tak kuasa untuk membendung derasnya air mata ini. Aku hanya sanggup berkata lirih:
Ya Allah.....
Dik, semoga Allah selalu memberikan kesabaran kepadamu dalam menghadapi segala macam ujian. karena pada hakekatnya bukankah kita semua berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya?
Dik... terlalu banyak nikmat yang kita peroleh jika dibandingkan dengan segala yang Adik dan aku derita selama ini sekalipun, ini masih belum seberapanya.
Dik... mudah-mudahan kita tidak termasuk orang-orang selalu mendustakan nikmatnya.
Dik... bukankah Adik ingat akan firman-Nya yang mengatakan:
`Barang siapa yang tidak bersyukur atas nikmat-Ku, tidak bersabar atas bala`-Ku, Keluarlah dari kolong langit-Ku dan carilah Tuhan selain Aku`
Padahal kita tau Dik.... kemana lagi kita akan mencari Tuhan selain Dia. Dialah Tuhan satu-satunya.
Bersabarlah Dik, Ingatkah kita bersama telah mengikrarkan mitstaqon ghaliza di hadapan-Nya. Bukankah Dia hanya menyebutnya kata tersebut 3 kali bahkan di dalam Kalam-Nya.
Semoga Allah senantiasa membimbing langkah-langkah kita.
Entah mengapa saat itu, aku merasa lemah sekaligus kuat pada saat yang bersamaan.
Friday, April 23, 2004
Flooding & Traffic Jams: The Same Old Story
(This is a back date writing)
Jakarta, April 21st 2004, as the wet season ends, Jakarta was drenched by ten hours of rain cats and dogs (heavy rain). The rain was so hard so that you can feel your face was hit by tear drops falling from the sky. The rain its self causing traffic jams all over the main street at the capital city of Indonesia. Several cars and motorcycles were having trouble with their engines while bracing the deluged streets.
I was walking from the office, I saw the clock showing at five. It is time to go home, I have had enough for the last two busy days at the office. I need to refresh my consciousness. Instead of doing anymore work, I prepared my self to go home. As I walked down to the lift, suddenly I realized that I did not bring an umbrella. But, my mind is made up, I have to go home earlier. So I decided not to go back to the office.
I was waiting for a bus P-17, the shelter where I was waiting for a bus is full of people, many motorcyclists sheltered under pedestrian bridges and overpasses, which added to the jams. Everybody looked in a hurry, they wanted to get home as fast as they can. After waiting for about one hour, the bus finally comes. As I step in to the bus, I saw several people stood up because of the seat were full. I stared around, hoping that might a little space for me to rest my fatigued feet. Lucky me, I saw an empty seat, right in the back row of the bus seats.
I got home at 10 PM, what a wearisome day. Imagine, I took a journey from office to my home approximately about 5 hours!!! Awesome, usually I only took one half hour form home to office or vice versa.
The city government should have take these responsibilities. The Governor of DKI Jakarta, Sutiyoso, cannot just promises that Jakarta will free from flood, jams and other some cities problems. The city government must take some serious action to avoid the same things in the next years. So, let us hope that the flood, jams and other cities problems would not be just the same old story for urban and commuter like me and also for all people who live in Jakarta.
(This is a back date writing)
Jakarta, April 21st 2004, as the wet season ends, Jakarta was drenched by ten hours of rain cats and dogs (heavy rain). The rain was so hard so that you can feel your face was hit by tear drops falling from the sky. The rain its self causing traffic jams all over the main street at the capital city of Indonesia. Several cars and motorcycles were having trouble with their engines while bracing the deluged streets.
I was walking from the office, I saw the clock showing at five. It is time to go home, I have had enough for the last two busy days at the office. I need to refresh my consciousness. Instead of doing anymore work, I prepared my self to go home. As I walked down to the lift, suddenly I realized that I did not bring an umbrella. But, my mind is made up, I have to go home earlier. So I decided not to go back to the office.
I was waiting for a bus P-17, the shelter where I was waiting for a bus is full of people, many motorcyclists sheltered under pedestrian bridges and overpasses, which added to the jams. Everybody looked in a hurry, they wanted to get home as fast as they can. After waiting for about one hour, the bus finally comes. As I step in to the bus, I saw several people stood up because of the seat were full. I stared around, hoping that might a little space for me to rest my fatigued feet. Lucky me, I saw an empty seat, right in the back row of the bus seats.
I got home at 10 PM, what a wearisome day. Imagine, I took a journey from office to my home approximately about 5 hours!!! Awesome, usually I only took one half hour form home to office or vice versa.
The city government should have take these responsibilities. The Governor of DKI Jakarta, Sutiyoso, cannot just promises that Jakarta will free from flood, jams and other some cities problems. The city government must take some serious action to avoid the same things in the next years. So, let us hope that the flood, jams and other cities problems would not be just the same old story for urban and commuter like me and also for all people who live in Jakarta.
Thursday, April 15, 2004
Monday, February 23, 2004
A Part of My Journey in Japan
Setelah selesai training di Jepang dan kembali ke kantor tercinta, sepertinya tidak ada waktu untuk bisa berleha-leha barang sejenak. Tugas lama yang sempat tertunda selama di Jepang, dan beberapa additional assignments sudah menuggu dan nampak bertumpuk di mejaku. Mungkin ini yang namanya back to routinity kali ya? Dan semoga saya tidak terjebak di dalamnya.
Postingan kali ini hanya ingin sedikit berbagi keindahan yang sempat tertangkap oleh my pocket digicam. Selain itu juga mungkin karena ada request dari neng Indiee serta kang Bagas untuk laporan pandangan matanya, serta sekalian yang empunya blog mau numpang nampang. he..he..
Please enjoy the picture, as if you were there also. And please ignore the date, due to error in setting. Just click on the picture for enlargement.
1. Metropolitan Government Building (MGB)

MGB, ini mempunyai 2 tower, North tower dan South Tower. Dari lantai 45 kita bisa melihat ke Shinjuku Tower, Tokyo Tower, dan Port of Tokyo, serta kalo lagi beruntung (jika cuaca cerah) Gunung Fuji pun bisa terlihat dari sini. Semua bangunan di sini harus antigempa, karena memang di Jepang rawan gempa, bahkan MGB ini dibangun dengan Super Stucture, yang mampu menahan gempa sampai 6-7 skala richter.
2. Asakusa

Ini adalah Asakusa, salah satu temple yang terkenal dan sering sering muncul pada postcard. Photo ini adalah Kaminarimon-gate, pintu masuk utama untuk masuk ke templenya. Di sepanjang jalan masuk menuju temple banyak kios-kios yang menyediakan berbagai macam souvenir.
3. Kabukicho: Shinjuku East Exit

Kabukicho adalah salah satu distrik di Tokyo, terletak di Stasiun Shinjuk dan keluarnya lewatEast Exit. Kabukicho juga terkenal sebagai kota tradisional "perempatan kesenangan" (tanda petik) . Juga dikenal sebagai gudangnya lampu merah Tokyo. Di sini juga banyak pusat-pusat perbelanjaan, restoran, dan amusement shops. Nama Kabukicho bermula pada tahun 1940-an, ketika di distrik itu akan dibangun Teater Kabuki. Kenyataannya teater tersebut tidak pernah jadi dibangun, akan tetapi namanya diabadikan menjadi nama tempat tersebut.
4. Imperial Palace: Nijyu-Bashi

Nijyu-Bashi adalah salah satu pintu masuk menuju Imperial Palace. Konon katanya setelah restorasi Meiji, "The Imperial" termasuk ibukota Jepang ikut berpindah dari Kyoto ke Tokyo, kemudian keturunan Tokugawa dari Dinasti Edo inilah yang sekarang mendiami Imperial Palace ini sekaligus sebagai kediaman resmi Kaisar Jepang.
Kalo model yang ada di photo-nya mah... silahkan dikomen sendiri aja ya. He..he...
5. Yuki: View from My Room (JICA Tokyo)

Kalo yang ini sih diambil dari jendela kamar saya... di JICA Tokyo Training Center. Pada saat salju (yuki) turun, menurut orang Tokyo sendiri, ini adalah Yuki ke-4 pada winter tahun ini. Beruntung saya, bisa merasakan salju pertama *udik mode on* hi..hi...
Wah... kayaknya cukup sekian dulu laporan pandangan mata (siaran tundanya). Sebenarnya masih banyak hal yang mau diceritakan, tapi nanti aja ya, disimpen buat postingan yang akan datang. Silahkan dilihat, di amati (terutama No. 4) *sembunyi*, dan dikomentari.
Setelah selesai training di Jepang dan kembali ke kantor tercinta, sepertinya tidak ada waktu untuk bisa berleha-leha barang sejenak. Tugas lama yang sempat tertunda selama di Jepang, dan beberapa additional assignments sudah menuggu dan nampak bertumpuk di mejaku. Mungkin ini yang namanya back to routinity kali ya? Dan semoga saya tidak terjebak di dalamnya.
Postingan kali ini hanya ingin sedikit berbagi keindahan yang sempat tertangkap oleh my pocket digicam. Selain itu juga mungkin karena ada request dari neng Indiee serta kang Bagas untuk laporan pandangan matanya, serta sekalian yang empunya blog mau numpang nampang. he..he..
Please enjoy the picture, as if you were there also. And please ignore the date, due to error in setting. Just click on the picture for enlargement.
1. Metropolitan Government Building (MGB)

MGB, ini mempunyai 2 tower, North tower dan South Tower. Dari lantai 45 kita bisa melihat ke Shinjuku Tower, Tokyo Tower, dan Port of Tokyo, serta kalo lagi beruntung (jika cuaca cerah) Gunung Fuji pun bisa terlihat dari sini. Semua bangunan di sini harus antigempa, karena memang di Jepang rawan gempa, bahkan MGB ini dibangun dengan Super Stucture, yang mampu menahan gempa sampai 6-7 skala richter.
2. Asakusa

Ini adalah Asakusa, salah satu temple yang terkenal dan sering sering muncul pada postcard. Photo ini adalah Kaminarimon-gate, pintu masuk utama untuk masuk ke templenya. Di sepanjang jalan masuk menuju temple banyak kios-kios yang menyediakan berbagai macam souvenir.
3. Kabukicho: Shinjuku East Exit

Kabukicho adalah salah satu distrik di Tokyo, terletak di Stasiun Shinjuk dan keluarnya lewatEast Exit. Kabukicho juga terkenal sebagai kota tradisional "perempatan kesenangan" (tanda petik) . Juga dikenal sebagai gudangnya lampu merah Tokyo. Di sini juga banyak pusat-pusat perbelanjaan, restoran, dan amusement shops. Nama Kabukicho bermula pada tahun 1940-an, ketika di distrik itu akan dibangun Teater Kabuki. Kenyataannya teater tersebut tidak pernah jadi dibangun, akan tetapi namanya diabadikan menjadi nama tempat tersebut.
4. Imperial Palace: Nijyu-Bashi

Nijyu-Bashi adalah salah satu pintu masuk menuju Imperial Palace. Konon katanya setelah restorasi Meiji, "The Imperial" termasuk ibukota Jepang ikut berpindah dari Kyoto ke Tokyo, kemudian keturunan Tokugawa dari Dinasti Edo inilah yang sekarang mendiami Imperial Palace ini sekaligus sebagai kediaman resmi Kaisar Jepang.
Kalo model yang ada di photo-nya mah... silahkan dikomen sendiri aja ya. He..he...
5. Yuki: View from My Room (JICA Tokyo)

Kalo yang ini sih diambil dari jendela kamar saya... di JICA Tokyo Training Center. Pada saat salju (yuki) turun, menurut orang Tokyo sendiri, ini adalah Yuki ke-4 pada winter tahun ini. Beruntung saya, bisa merasakan salju pertama *udik mode on* hi..hi...
Wah... kayaknya cukup sekian dulu laporan pandangan mata (siaran tundanya). Sebenarnya masih banyak hal yang mau diceritakan, tapi nanti aja ya, disimpen buat postingan yang akan datang. Silahkan dilihat, di amati (terutama No. 4) *sembunyi*, dan dikomentari.
Subscribe to:
Posts (Atom)